Pindah Kamar

Singkat cerita, saya mulai jenuh dengan blog ini. Isinya sudah campur aduk bin kacau-balau. Melalui sejumlah pertimbangan yang sungguh berat, maka saya memutuskan jalan paling malas untuk membereskannya, yaitu dengan cara membuat blog baru. Berharap dengan begitu, saya pun punya tenaga baru buat rajin mengunggah tulisan-tulisan baru.

Blog tersebut saya fokuskan terutama buat menulis hal-hal arsitektural. Tulisan-tulisannya akan saya muat sepenuhnya dalam Bahasa Inggris, hitung-hitung biar saya rajin latihan. Alamatnya di sini. Untuk hal-hal yang terlalu personal yang sudah akan sangat jarang saya tuliskan, antara lain urusan pencurhatan, pengkodean, dan segala remeh-temeh lainnya, masih akan saya ruangkan di sini. Semoga suatu saat nanti, saya bisa produktif lagi menulis di blog ini. Untuk sementara ini: Adieu! Terima kasih telah sudi menyimak tulisan-tulisan saya di blog ini.

“You Will”

Barr and I had met in 1929 when he was a professor of art at Wellesley and I was a Harvard student. We got to be good friends very quickly, and after just a few weeks, he asked me if I’d like to head the Department of Architecture and Design at the Museum of Modern Art, which had just been founded and where he was to be the director.

I said, I didn’t know anything about architecture, but he said, “You will.”

(an excerpt of foreword to the 1995 edition of The International Style, written by Philip Johnson. He became the first chief curator of Department of Architecture and Design at MoMA and later turned into an architect.)

On Being Alone

IMG_20151106_144631

It was a random conversation with Calosa, one of the coolest, street-smartest senior I know in my university. Her blog is that kind of blog that makes you feel tiny in this world, yet at the same time is very inspiring and worth to read. She lives in Rome when I write this piece, yet I never know for sure where she will be as she is always in transitu—never really stays and will always be on the way.

She asked me about how New York was. It’s always a hard question for me, as the city itself is too big to be explained as a whole and too diverse to be expressed in a single impression. There is of course another matter of difference, between staying for travel and living for study. It’s a tricky question I would always try to avoid, and I did try to avoid to answer her.

She told me then that her friend once move to New York and never wanted to go back because everything was much better here. The conversation turned into a serious debate as I threw my guess that she was so into Europe but might not be into New York and United States in general. Inevitably, I had to explain my opinion on the city.

“Unlike European cities with its deeply rooted culture, it is capitalism and individualism everywhere. Buildings are high-rises, people are busy, life run fast, too many things going on. If everything is much better here, it might be because of the competition,” I said.

“Well then what makes you said I wouldn’t like it? In the end, Europe is the contrary. Homogeneous, less capitalistic, laid back, which on one side could be a good thing but on the other side is not. Just imagine what I just mentioned and put it on an extreme way. Laid back sounds cool, but if you stretch it a bit more, it’s called pathetic.”

“But then, that specific situation of the city makes it tough living here, especially when you are alone.”

“Well, being alone doesn’t have anything to do with whether it is Europe or America, no? And I think being in a naturally multicultural environment is much easier than being a minority in a homogeneous environment.”

“It does influence,” I replied. “With its fast rhythm and individual people, the city just makes you feel more lonely. It reifies the feeling. At some point, I felt really stressed and desperate about it. However, it might be just a matter of time.”

I don’t know, though. In my mind, I recalled my every sleeping moment, my daily odd ritual when I have nothing to do but sleep, yet I just could not sleep as the lonesome feeling floods my mind and brings me into an edge of a cliff in a dark shadowy night.

“Individuality doesn’t sound like a bad thing to me. It allows you to be alone”

“Well, then I am wrong. I take my words back. You will like to live in New York. It is indeed the best place to be alone.”

“.Not saying that I want to be alone,” she said, “But I agree at your point that social life affects how you perceive a city, no matter how beautiful it is.”

Well-said conclusion, I thought. And I agreed at her point too, that being alone was not something bad. In the end, I replied, “Having said that, it is not that I don’t like the city. I love New York. For its beautiful cruelty.”

Hasil menyampul hari ini.

Sampul

Perkara sampul-menyampul, saya sebetulnya tidak rajin-rajin amat.

Tetapi, panggilan untuk menyampul buku seringkali muncul ketika tampilan buku-buku yang saya beli mulai lusuh—entah terkelupas, tercoret, tergores, tertumpahi, macam-macam lah ceritanya. Biasanya itu buku-buku yang saya bawa ke mana-mana untuk dibaca di macam-macam tempat, yang kemudian bersentuhan dengan aneka barang yang ada di dalam tas saya.

Singkat kata, hasrat saya untuk menyampul sejatinya bukan sebuah aksi pencegahan, melainkan tindak pengobatan. Dengan sampul, setidaknya buku-buku itu saya yakini akan terlihat lebih kinclong dan aman untuk hari-hari esok. Mencegah memang lebih baik dari mengobati, tetapi mengobati lebih baik daripada tidak melakukan apa-apa sama sekali.

Kisah awal mula saya menyampul hari ini kurang lebih begitu juga. Sebetulnya, saya sudah membeli sampul plastik jauh-jauh hari ketika mampir ke ITC Mangga Dua. Waktu itu, saya hendak membeli kado untuk teman. Ketika melewati area peralatan tulis-menulis yang harga barang-barangnya jauh lebih murah dibanding di mal, tergeraklah saya untuk membeli beberapa peralatan tulis, termasuk sampul plastik. Namun, saya tidak langsung memakai sampul plastik itu untuk menyampul buku-buku saya. Pintu hati saya baru benar-benar terketuk ketika hari ini saya melihat pinggir muka buku Gelombang karya Dewi Lestari, yang plastiknya baru saya buka tak sampai seminggu, sudah mulai menggelopak. Saya lalu ingat, banyak juga buku yang saya senangi tetapi bernasib sama. Maka hari ini, bulat tekad saya untuk menyampul.

02

Peralatan yang saya gunakan untuk menyampul adalah: cutting mat, penggaris, cutter, gunting, perekat dua-sisi, dan jepitan kertas. Meskipun menggunakan banyak perangkat, cara saya menyampul sebetulnya cukup praktis.

Pertama, saya tidak mengukur dengan rinci. Agar bisa rapi dan tepat, saya berutang banyak pada cutting mat(e). Dengannya, saya bisa menyesuaikan potongan sampul pada garis kotak-kotak yang tersedia. Saya selalu lebihkan 3 kotak dari batas buku untuk tekukan sampul. Cutting mat juga memudahkan saya untuk memastikan apakah potongan sampulnya sudah tegak lurus.

01

Kedua, sebisa mungkin saya tidak menggunakan perekat kecuali betul-betul diperlukan. Perekat buat saya merepotkan. Baik lem, tape satu-sisi, maupun tape dua-sisi, jika tidak digunakan dengan hati-hati bisa menemplok di mana-mana. Lagipula dalam urusan sampul-menyampul ini saya memiliki satu pedoman yang tak boleh dilanggar: jangan menodai buku yang hendak disampul dengan alat perekat. Tujuannya, agar ketika sampul plastik itu dibuka, perekat yang digunakan tidak berbekas pada fisik buku tersebut. Maka saya mengandalkan tekukan plastik agar sampul plastiknya dapat memegang erat muka buku. Tekukan-tekukannya juga harus cukup kuat untuk menahan berbagai pergolakan yang akan dihadapi muka buku. Pun jika ada perekat yang digunakan, ia harus mempertemukan plastik dengan plastik, bukan dengan muka buku.

Di sini lah penjepit kertas berperan penting. Ketika menekuk buku, saya menggunakan kekuatan penjepit kertas untuk membuat plastiknya benar-benar tertekuk. Setelah saya jepit, saya tarik penjepit itu perlahan-lahan agar meluncur di sepanjang tekukan. Penjepit kertas ini juga berguna untuk menahan tekukan yang sudah tertekuk, sehingga ketika kita menekuk tekukan yang lain, tekukan yang sudah tertekuk itu tidak memekar kembali.

0304

Terakhir, saya menggunakan teknik lipatan yang seadanya. Pertama-tama saya akan melipat sisi samping dulu ke muka buku bagian dalam. Lalu, saya pakai gunting untuk memotong plastik bagian sisi atas-bawah lidah buku yang tak bisa dilipat. Kemudian, sisi atas dan bawah saya lipat ke muka dalam buku. Selesai.

Saya tidak memberikan perlakuan lebih lanjut pada ujung sampul yang bertumpuk. Saya juga tidak menggunakan teknik lipatan segitiga serong yang membuat tampilan lipatan lebih cantik dan rapi. Pokoknya, gampang dan cepat saja lah. Wong yang dibaca isinya, bukan sampulnya.

05

Demikian cara saya menyampul buku. Disclaimer: saya tidak sedang berbagi tips. Buat saya, poin-poin yang saya sebut di atas bukanlah sesuatu yang layak untuk diikuti. Saya pun tidak yakin bahwa ini sudah cara yang paling praktis. Ini cara yang seadanya dan sekenanya saja di pikiran saya. Jika Anda punya yang lebih praktis, mohon beritahu saya. Tetapi, saran saya: menyampul lah dengan baik dan benar demi masa depan buku yang lebih cerah dan menyampul lah jauh sebelum buku Anda keburu usang.

google doodle

26

Saya sebetulnya enggan percaya bahwa hari ini saya genap 26. Saya tulis angka itu bulat-bulat di atas selembar kertas dan saya tatap cermat-cermat dengan penuh harap bahwa angka itu akan sedikit berkurang. Biar untuk satu-dua tahun saja, sesungguhnya itu sudah sangat berarti buat saya. Namun, apa lacur saya tidak sedang bermimpi dan saya bukan tuhan.

26, buat saya, adalah umur yang keparat. Saya ingat, waktu saya membeli tiket kereta untuk suatu perjalanan, 26 adalah ambang yang memestikan pembeli untuk membayar tiket dewasa. Pada 26, Chairil Anwar dan Soe Hok Gie—salah dua pemikir paling merdeka yang pernah dimiliki Indonesia—mati meninggalkan karya-karya yang mempengaruhi begitu banyak orang. Pada 26, Mark Zuckenberg, pemilik Facebook, sudah terpilih jadi Person of The Year versi Majalah Time. Pada 26, saya adalah pemuda tak jelas yang sedang duduk di kafe sendirian sambil menuliskan umurnya di atas kertas kosong lalu mengamati angka itu dengan tatapan yang tak kalah kosong. Alamak.

Saya bukan berharap bisa menjadi sosok seperti mereka. Untuk urusan khayal-mengkhayal, saya cukup tahu diri lah. Bukan berarti saya juga tidak bersyukur atas apa yang saya punyai. Memang sih, terkadang lebih menarik mengingini apa yang belum kita punyai ketimbang mensyukuri apa yang sudah kita miliki. Harap maklum, saya manusia biasa. Tetapi bukan itu pokok perkaranya. Yang jadi soal, sebagaimana ulang tahun semestinya adalah sebuah perayaan, saya tidak tahu apa yang mesti saya rayakan. Gambaran saya akan hal-hal yang semestinya sudah diperbuat seseorang umur 26, baik edisi kapitalis, idealis, maupun realistis, tidak ada sama sekali pada saya. Itu jikalau bicara pencapaian yang sudah lewat. Bicara masa depan, saya pun sama tidak jelasnya. Masa sih, saya mesti merayakan saja ketidakjelasan hidup?

Kalau saja ulang tahun saya bulan Februari, setidaknya saya masih punya sedikit harapan. Waktu itu, ada dua urusan per-masa-depan-an yang sedang dalam proses, yaitu pendaftaran sekolah dan pendaftaran beasiswa. Tapi sayangnya saya ulang tahun di bulan Maret, saat hasil pendaftaran-pendaftaran itu telah keluar. Saya diterima sekolah, tetapi saya gagal mendapatkan beasiswa. Yang saya pikir sulit malah dapat, yang saya pikir relatif akan lebih mudah malah tidak dapat. Pun sudah begitu, pengumuman diterima sekolah keluar duluan. Ibarat sudah satu kaki melangkah, lalu kaki yang satu lagi dipatahkan. Sungguh aduhai rasanya.

Di Maret ini pula saya menyaksikan teman-teman yang saya kenal dekat semasa kuliah mulai masuk ke, kalau kata Pak Gun, dosen arsitektur legendaris di kampus saya dulu, tahap-tahap berikutnya dari “ritus kehidupan”. Yang satu akan menikah, yang satu menyatakan secara resmi punya momongan dalam kandungan, sementara satu lagi memastikan diri akan sekolah di luar. Tentu saya senang akan semua berita gembira itu. Setidaknya, jikalau pada akhirnya saya tidak bisa merayakan apa yang ada pada saya, saya setidaknya bisa merayakan apa yang ada pada teman-teman saya.

Sesungguhnya saya malas sekali memikirkan urusan perumuran ini dan saya ingin melarikan diri dengan menyibukkan diri saja. Sialnya, hujan menjebak saya di sebuah teras kafe di samping sebuah perpustakaan publik di Jalan Proklamasi. Mau balik ke perpustakaan menenggelamkan diri ke dalam buku-buku, waktunya sudah tanggung. Mau buka laptop dan bekerja, letak stop kontaknya jauh. Alhasil, perpaduan hujan, yang mau tak mau membuat saya menunggu, dengan secangkir kopi, yang mau tak mau saya pesan untuk menemani saya menunggu, membuat saya mau tak mau memikirkan urusan perumuran ini.

Jebakan-jebakan ketika memikirkan urusan perumuran adalah antara terjebak bersama Raisa di ruang nostalgia atau mabuk kepayang dalam fantasi indah masa depan yang akan runtuh seketika pada setiap ulang tahun berikutnya. Sedikit kabar baik dari berumur 26 adalah kamu punya cukup pengalaman untuk menghindari jebakan-jebakan semacam demikian. Namun, keahlian semacam itu hanya membuatmu tahu apa yang semestinya tidak dirayakan, tanpa memberikanmu jawaban mengenai ihwal-ihwal yang semestinya kamu rayakan. Lantas, kembali ke pokok persoalan: apa yang mesti saya rayakan?

Setelah berpikir panjang lebar, maka saya putuskan untuk merayakan hari ini saja. Merayakan kue yang diberikan oleh ibu saya; merayakan pahit kopi pada cangkir keramik putih; merayakan senja yang kemerahan sehabis gerimis; merayakan buku-buku koleksi perpustakaan sebelah yang bisa dinikmati banyak orang gratis; merayakan orang-orang di meja sebelah yang ngobrol ngalur-ngidul tak jelas sama seperti pikiran saya; merayakan ucapan selamat dari teman-teman yang masih ingat tanggal ulang tahun saya meskipun notifikasi Facebook-nya sudah saya matikan; merayakan doodle google yang saking cerdasnya bisa turut serta mengucapkan selamat ulang tahun—kejutan kecil yang cukup mengharukan; dan merayakan sejenak waktu yang saya pakai untuk merenung.

Hidup adalah perayaan masing-masing. Hari ini, biarlah saya merayakan hari ini. Selamat ulang tahun, Robin.

Jakarta, 18 Maret 2015

google doodle

Kita adalah Sisa-sisa Keikhlasan yang Tak Diikhlaskan

Kita tak semestinya berpijak diantara
Ragu yang tak berbatas
Seperti berdiri ditengah kehampaan
Mencoba untuk membuat pertemuan cinta

Ketika surya tenggelam
Bersama kisah yang tak terungkapkan
Mungkin bukan waktunya
Berbagi pada nestapa
Atau mungkin kita yang tidak kunjung siap

Kita pernah mencoba berjuang
Berjuang terlepas dari kehampaan ini
Meski hanyalah dua cinta
Yang tak tahu entah akan dibawa kemana

Kita adalah sisa-sisa keikhlasan
Yang tak diikhlaskan
Bertiup tak berarah
Berarah ke ketiadaan
Akankah bisa bertemu
Kelak didalam perjumpaan abadi